Rabu, 21 Januari 2015

berlari kencang, sesekali tak mundur.

Bukan karena betapa kuat dan tangguhnya aku. tapi keadaanlah yang paksa aku melakukan semuanya sendiri. karena yang aku tahu hidup yang sesungguhnya adalah tentang seberapa kuat kamu berjuang dan bertahan menghadapinya, selebihnya adalah tentang bagaimana menikmatinya.
Aku tahu aku harus berjuang dan perjuangan ini mungkin tidak akan ada habisnya hingga keputusasaanku merajai pikiranku, tapi sesekali aku tidak akan pernah menyerah. karena sekali saja aku menyerah, aku jatuh lagi dan lagi. rasanya sakit.
Aku akan terus berlari, dan semakin lama semakin kencang lariku. pabila sesekali aku melambat dan menghentikan langkahku. Aku lemas dan langsung tak berdaya. seperti yang kubilang, aku jatuh lagi. Bahkan jatuh terlalu jauh ke dalam. Karena itu aku harus selalu bisa bangun dan lari lagi.
Berlariku mengejar impianku, dan menjauhi masa kelamku di belakang.
Aku berjuang sendiri. sendiri tanpa siapapun. bukan berlebihan. tapi memang iya aku sendiri yang melakukannya. aku menangis sendiri dan aku menghapusnya dengan tanganku sendiri. aku jatuh sendiri dan aku bangun sendiri.
Sebenarnya bukan karena aku hidup sebatang kara. tapi mereka yang kupunya tidak bisa pedulikan bagaimana aku. Tapi apalah aku, sebegitu lemahnya aku mengemis kasihan dan kepedulian mereka? Maaf, sekalipun aku tidak ingin lagi melakukannya. itu hanya buat rasa sakit hatiku memuncak karena rasa kecewa yang mereka buat.
Lalu bagaimana lagi aku harus bertahan? tak ada jalan lain selain aku berjuang sendirian. berharap pada diri sendiri semoga tubuh kecilku ini kuat, tangguh dan tak melemas untuk berlari kencang. berharap semoga mataku tak buru-buru meneteskan airnya saat aku merasa letih. berharap agar sabarku tak meredup saat kutemukan rasa sakit. berharap umurku masih panjang untuk setidaknya buat diriku ini merasakan bahagianya di puncak dan sejenak tak harus berlari lagi.
hmmmm... setiap kali aku mencoba menarik nafas dan menghelakannya, aku bisa tersenyum saat menghapus air mataku. setidaknya aku masih bisa melihat betapa luasnya jagat raya hingga track lariku begitu luas dan banyak jalan hingga tak harus aku berputar-putar atau mundur ke belakang. setidaknya akupun bisa melihat senyumanku yang lumayan manis di depan cerminku. setidaknya masih ada yang peduli akan hidupku, sekalipun itu diriku sendiri :)

Minggu, 11 Januari 2015

hati hati dengan mulutmu

setiap kata itu bermakna, sekalipun cuma satu kata itu juga berarti makna dan begitu mengena.
hati hati dengan ucapanmu. hati hati dengan bibirmu.
aku bisa saja mencintaimu dengan ketulusan yang tiada henti menahan egoku untuk membendung setiap egomu yang seperti batu. karena aku tahu bahwa batu ketemu batu tidak akan bisa bersenandung syahdu. tapi aku jera ketika aku sadar bahwa jalinan hubungan adalah imbuhan me- dan di- ada keduanya bukan hanya salah satu. aku mengerti amarahmu tapi kamu ga ngerti sakit hatiku atas ucapanmu.
berkali-kali kamu buat aku diam menahan rasa sakitnya hati tertusuk oleh ucapanmu. berkali-kali kucoba untuk menghiraukan perkataanmu dan mencoba mengalihkan pikiranku mengingat kebaikanmu tapi... hatiku gabisa bohong. aku terlanjur sakit hati dibuatmu.
aku ini apa, aku cuma bisa diem punah. tanpa perlawanan terhadapmu sementara gejolak pribadiku sendiri kulawan agar kutahan menahan amarah dalam hati.
aku ini apa, sabarku meracuniku semakin lemah dan akhirnya punah.
kadang aku berpikir, apakah ada terlintas di otakmu memikirkan hatiku. apakah ada di benakmu bahwa kau merasa sudah berulangkali menyakiti hatiku. lalu, apakah terbayang olehmu jika ternyata rasa cinta itu sudah lama sirna terkikis oleh ucapan dan sikap kasarmu?
aku hancur, aku lemah.
aku bahkan tidak bisa memutuskan untuk pergi sementara kakiku begitu kuat menarik jiwaku untuk pergi dari semua ini.
dan bahkan keinginanku sudahi semua ini, cukup aku sudah tak tahan.
aku menyerah..