dari awal aku memilih kamu, seperti kesalahan yang indah. saat aku ijinkanmu masuk bertahta dalma ruang sepi yang terlanjur pernah terluka. mengenalmu dalam arti dalam, buat egoku perlahan pergi dan meninggalkan hasratku. bersabar tegar hadapi kamu dan egomu, bilang saja ini cinta. mendalami egomu dengan kesetiaanku, semakin membunuh rasa bahagia dalam relung hatiku yang terdalam. bahkan dalam detikku bergumam "apakah ada cintamu untukku sesungguhnya?". sepintas aku pernah temukan bahagiaku denganmu, namun tak kunjung berlangsung hingga lelah akan tanyaku dalam batinku sendiri. apakah sebenarna tujuanmu denganku? tidak kutemukan jawabannya. hingga sekian kalinya keputusanku ingin pergi darimu berkali-kali. dan berkali=kali juga kau berhasil gagalkan itu.
hingga akhirnya jengah perasaanku. aku ingin pergi. dan apalagi, yang kutemukan malah kamu dengan seseorang yang tak kukenal. akhirnya perasaanku luluh dan tak rela untuk pergi.
sekian hari akhirnya berlalu jauh hingga kini, aku tetap rasakan hasrat yang besar darimu, seperi mengisyaratkan kamu ingin pergi. lalu apa artinya aku disini? tersiksa dalam perasaanmu yang semakin hari pergi?
bahkan setiap kali terbentang dalam samudera pikiranku, rasanya aku pernah melihat betapa indah dia di masalalu mu yang bahagia dipuja dan dicinta olehmu. bahkan dia bak ratu dalam singgasanamu.
sementara apakah aku hanya seperti selirmu yang harus sedia membasuh keringatmu kala lelahmu, sedia melayanimu dalam hasrat nafsumu, sedia lakukan keinginanmu, sedia mendengar keluhmu. dan tak berhak untuk sekali saja mengeluh dan mengikuti egoku.
kuakui kucinta. bahkan di titik kesusahanmu meskipun sesekali aku rasa ingin pergi tapi hilang kesanggupanku untuk pergi darimu.
namun apakah adil bagiku, saat di puncakmu aku terbuang seperti sampah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar